Pancasila : Days of Future Past

June 19, 2014

Dalam rangka memperingati Hari Lahirnya Pancasila. Teach For Indonesia dan Gerakan Fajar Nusantara bersama-sama menyelenggarakan acara : “Days Of Future Past” pada tanggal 13 Juni 2014 di Auditorium kampus Anggrek.

Acara ini untuk umum dan gratis. Diharapkan menyadarkan dan mengingat kembali dasar negara Indonesia yaitu Pancasila, yang akhir-akhir ini penerapannya sudah semakin berkurang.

Acara di awali dengan : menyanyikan lagu Indonesia raya, kemudian pembacaan pancasila.

Persembahan lagu dari rekan-rekan mahasiswa dengan lagu yang sangat apik, yang meningatkan kembali kita tentang Indonesia : “Bendera” dan “Indonesia Jaya” serta ada Monolog dengan judul “Merindukan Bapak Bangsa Sejati” yang dibawakan oleh Bapak Bambang Uban.

Dengan menghadirkan Key Note Speaker Ibu Dra. Hajah. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ibu Negara Republik Indonesia ke 4. Beliau menggaris bawahi bahwa Pancasila yang mengandung nilai-nilai yang mulia dan sangat ideal, namun sayangnya nilai-nilai tersebut tidak tercermin dalam perilaku kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Perlu strategi agar Pancasila mendasari perikehidupan masyarakat Indonesia yang saat ini sudah tergerus oleh modernisasi. Pancasila adalah Anugrah dari Yang Maha Kuasa maka kita perlu mensyukurinya.

Dalam Dialog Publik ini, dihadiri oleh 4 nara sumber yang luar biasa. Adalah sebagai berikut :

  1. Pak Yudi Latif, (tolong dikasih sedikit informasi tentang Beliau)
  2. Prof Franz Magnis Suseno, (tolong dikasih sedikit informasi tentang Beliau)
  3. Pak Mahful Tumanurung, (tolong dikasih sedikit informasi tentang Beliau)
  4. Pak Djuyoto Suntani, (tolong dikasih sedikit informasi tentang Beliau)

Acara berjalan dengan sangat baik, bahkan antusias peserta untuk menanyakan kepada narasumber terus bergulir. Namun karena keterbatasan waktu maka acara tersebut akhirnya di tutup.

Dengan adanya tarian Belantek dan Tapak Tangan.

Meski acara ini berakhir, namun sangat sekali diharapkan peserta dapat memahami lebih dalam dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena tidak semua negara memiliki ideologi Pancasila.

Bangga sebagai Bangsa Indonesia.

 

IMG_1979

IMG_2014

IMG_1734

IMG_1812

IMG_1853

IMG_1892

IMG_1938more photos


Pancasila: Days of Future Past

In commemoration of the Birth of the Pancasila. Teach For Indonesia and the Fajar Nusantara Movement jointly organized the event: “Days of Future Past” on June 13, 2014 at the Auditorium of the Anggrek campus.

This event is public and free. It is hoped to awaken and recall the basis of the Indonesian state, Pancasila, which has recently been increasingly reduced in application.

The program began with: singing the great Indonesian song, then reading the Pancasila.

Song offerings from fellow students with a very slick song, which reminds us of Indonesia: “Bendera” and “Indonesia Jaya” and there is a Monologue with the title “Missing the True Nation” which was delivered by Mr. Bambang Uban.

By presenting Mrs. Dra. Hajah. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, First Lady of the Republic of Indonesia, she underlined that Pancasila contains noble values ​​and is very ideal, but unfortunately these values ​​are not reflected in the behavior of Indonesian people’s lives today. A strategy is needed so that Pancasila underlies the life of the Indonesian people who are currently being eroded by modernization. Pancasila is a gift from the Almighty, so we need to give thanks.

In this Public Dialogue, 4 keynote speakers were attended. Are as follows :

Pak Yudi Latif, (please give a little information about him)

Prof. Franz Magnis Suseno, (please give a little information about him)

Mr. Mahful Tumanurung, (please give a little information about him)

Mr. Djuyoto Suntani, (please give a little information about him)

The event went very well, even the participants were enthusiastic to ask the informants to keep rolling. However, due to time constraints, the event was finally closed.

With the Belantek dance and Tread Hands.

Although this event is over, it is highly expected that participants can understand more deeply and carry it out in their daily lives. Because not all countries have the Pancasila ideology.

Proud as Indonesian Nation.